
PASCAPERTEMUAN Jokowi dan Prabowo sebagai bentuk dari rekonsiliasi politik, rupiah menguat ke level Rp 13.900 dari sebelumnya Rp.14.000. Penguatan rupiah, menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengatakan, “…terdampak dari rekonsiliasi kubu Jokowi dan Prabowo” (Kompas.com, 2019).
Rujuk politik antara Jokowi dan Prabowo ternyata benar-benar menjadi berkah bagi perekonomian Indonesia. Apalagi jika pemandangan ini tetap terjaga dalam rentang waktu yang lama, tentu saja iklim investasi kita akan membaik. Sebab, investor hanya akan berani menggelontorkan modalnya di negara dengan stabilitas politik.
Bukan hanya berkah untuk nilai mata uang kita, tetapi, rekonsiliasi juga membawa angin segar bagi suhu politik kita terus panas selama Pilpres 2019. Masyarakat kita terbelah, kebencian antar kelompok menguat dan hadirnya penunggang gelap pemilu (baca:oligarki). Fenomema tersebut menjelaskan betapa gelapnya kompetisi demokrasi kita.
Dalam sebuah kompetisi demokrasi yang sehat, dibutuhkan beragam pilihan politik. Jokowi dan Prabowo hadir sebagai pilihan tersebut. Singkatnya, perbedaan pilihan politik adalah keniscayaan dan terjadi di negara demokratis lainnya. Pilpres 2019 lalu, secara ideologi, tidak ada perbedaan antara Jokowi dan Prabowo. Maka, gesekan di akar rumput seharusnya dapat diminimalisasi.
Balada Masyarakat Pemuja Gelar
Read more
Namun, dari sinilah penggelapan demokrasi kita bermula, alih-alih menggarisbawahi pada perbedaan kebijakan dan strategi pembangunan. Keduanya sibuk membangun narasi yang saling mencitrakan lawan politik sebagai musuh.