
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa faktor harga minyak mentah (dolar AS/barel) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menjadi faktor penentu naik turunnya nilai impor. Pada gilirannya, poin ini menjadi faktor penentu defisit migas dapat melonjak naik maupun turun.
Tauhid menilai, apabila pada 2019 diproyeksikan harga minyak mentah hanya bergeser sebesar 66-67 dolar AS per barrel dengan volume impor yang stabil pada kisaran 50 juta ton, nilai impor migas pada 2019 akan mencapai 47 miliar-48 miliar dolar AS.
"Naik sedikit dibandingkan tahun 2018 yang sebesar 47,04 miliar dolar AS," tuturnya.
Untuk menekan defisit tersebut, salah satu kunci yang disebut Tauhid adalah meningkatkan produksi dalam negeri. Namun, upaya ini tampaknya masih butuh waktu panjang mengingat lelang blok migas dalam periode 2015-2016 tidak ada yang laku.
Sementara itu, pada 2017-2019 telah laku 16 blok dengan metode gross split. Namun, seluruh blok tersebut baru akan bisa berproduksi minimal tujuh tahun sejak eksplorasi dimulai.