
JAKARTA - Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Tauhid menilai, defisit migas pada dasarnya tidak dapat dihindari oleh Indonesia. Sebab, kebutuhan migas jauh lebih tinggi dibandingkan produksi. Khususnya sejak 2008 hingga saat ini.
Tauhid mencatat, puncak defisit migas terjadi pada 2014, yaitu 13,4 miliar dolar AS. Sementara itu, pada Januari-Juni 2019, defisit tersebut mencapai 4,78 miliar dolar AS atau turun 14,88 persen dibanding dengan periode yang sama pada tahun lalu, 5,61 miliar dolar AS.
Meski demikian, Tauhid memproyeksikan defisit sampai akhir tahun ini akan terus tumbuh. Prediksi ini seiring dengan kebutuhan bulanan yang besar. "Diperkirakan defisit migas hingga akhir tahun 2019 akan tembus di atas 10 miliar dolar AS," ujarnya dalam diskusi daring, Minggu (28/7).
Artinya, Tauhid menambahkan, defisit ini akan semakin terus terjadi sepanjang produksi migas kita tetap rendah, sementara kebutuhan terus meningkat. Kebutuhan ini diiringi dengan makin besarnya pertumbuhan penduduk, baik pemanfaatan untuk kendaraan bermotor, rumah tangga, maupun industri.
Perkembangan impor migas sebenarnya lebih dominan pada nilai impor dibandingkan volume impor. Hal ini terlihat bahwa volume impor tetap pada angka 49 juta-50 juta ton pada periode 2013 hingga 2018. Tapi, nilai impornya sangat bervariasi, dimana pada 2013, nilai impor berada pada 45,26 miliar dolar AS menjadi 29,8 miliar dolar AS pada tahun lalu.