
Upaya pemadaman api, ungkap Edwar, dilakukan dari udara dan darat. Dari udara, BPBD Riau bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), TNI, serta Polri mengirimkan heli dan pesawat untuk melakukan water bombing. Di darat, TNI Angkatan Darat membantu proses pemadaman dan pendinginan di hutan dan lahan yang terbakar.
Dari sisi penegakan hukum, aparat kepolisian mencatat ada 16 kasus tindak pidana kebakaran hutan dan lahan di Riau. Perinciannya, Kabupaten Indragiri Hulu menyumbang satu kasus, Indragiri Hilir satu kasus, Rokan Hilir tiga kasus, Pekanbaru satu kasus, Meranti dua kasus, Dumai lima kasus, dan Bengkalis tiga kasus.
Menurut catatan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), jumlah titik api hingga sepekan belakangan meningkat tajam, terutama di daerah-daerah rawan karhutla. Peningkatan tajam utamanya tercatat di wilayah Kalimantan Barat (Kalbar) dan Kalimantan Tengah (Kalteng).
Jika dua pekan lalu titik api di Kalbar yang terpindai satelit Terra/Aqua sebanyak tiga titik, pada sepekan belakangan melonjak hingga 45 titik. Sementara, di Kalteng, dari lima titik melonjak mencapai 23 titik. Secara nasional, titik api meningkat lebih dari 100 persen, dari 51 titik dua pekan lalu hingga mencapai 119 titik sepekan belakangan.
Sedikitnya 15 hektare lahan gambut di pinggiran Kota Pekanbaru juga hangus terbakar dan hingga kemarin masih terus berusaha dikendalikan Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Riau. Kepala Manggala Agni Daerah Operasi Pekanbaru Edwin Putra mengatakan, Ahad (21/7) kemarin merupakan hari ketiga upaya pemadaman titik api yang berlokasi Jalan Walet, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Payung Sekaki, tersebut.