
Sementara Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kepulauan Meranti, Drs H Nuriman Khair, mengatakan, meskipun kabut asap sudah terlihat menyelimuti Meranti, namun belum berdampak luas dan mempengaruhi aktivitas sekolah di daerah tersebut. Kebijakan untuk meliburkan sekolah pun belum dilakukan.
"Kabut tidak begitu tebal, makanya saya minta sama dinas kesehatan menyiapkan masker untuk sekolah-sekolah, tapi jangan sampai mengganggu jam pelajaran. Saat ini kita menerapkan kurikulum K13 jadi siswa tidak bisa sembarang diliburkan," kata Nuriman.
Mantan sekretaris dewan itu hanya akan meliburkan sekolah setelah melihat kondisi kabut asap secara situasional. "Saya mengimbau siswa yang berada di sekolah untuk tidak beraktifitas diluar dan cukup hanya di kelas saja. Kalau kita harus meliburkan sekolah itu sampai kapan, tidak ada kepastian, kecuali kabut itu pekat betul, ukuran saya jarak pandang, kalau saat ini masih normal, jadi cukup pakai masker saja," papar Nuriman.
Sedangkan Kepala Bidang Pencegahan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Muhammad Fahri, mengatakan, saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dengan dinas pendidikan perihal meliburkan sekolah. Dia mengatakan, langkah koordinasi ini dilakukan agar kebijakan meliburkan sekolah di Kepulauan Meranti bisa diambil secara bijaksana.
"Karena kita tidak punya alat ISPU (Indeks Standard Pencemaran Udara) jadi kita masih bingung harus beracuan kemana, namun untuk kondisi itu kita akan berkoordinasi dengan DLH," kata Fahri.