
Bantuan tersebut juga mendukung upaya mengidentifikasi tantangan-tantangan yang masih ada dalam memastikan pendidikan yang berkualitas dan memperluas akses pendidikan. Identifikasi tantangan tersebut amat penting supaya berbagai kendala proses pendidikan dapat dicarikan solusi segera.
Tantangan-tantangan ini antara lain kesiapan sekolah anak-anak, rendahnya permintaan pendidikan dari masyarakat, dan kurangnya akses sekolah khususnya di daerah terpencil, daerah yang kurang berkembang dan daerah perbatasan. Dalam upaya memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal, kami percaya pada pentingnya merangkul bukan hanya pemerintah, namun organisasi nonpemerintah.
Uni Eropa mendukung pemberdayaan masyarakat sipil dan salah satu contohnya adalah mendukung proyek YAPPIKA ActionAid melalui pemberian hibah sebesar 750.000 euro (atau sekitar 12 miliar rupiah). Hal ini bertujuan untuk menjangkau 155.000 anak sekolah dasar di Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan yang karena berbagai sebab tidak dapat menempuh pendidikan.
Saya bangga dapat meluncurkan proyek ini pada tanggal 18 Mei lalu bersama dengan bintang film Reza Rahadian, duta peduli pendidikan untuk YAPPIKA. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan standar kualitas pendidikan, mengurangi tingkat putus sekolah dan meningkatkan akses anak perempuan dan anak-anak penyandang cacat ke sekolah inklusif.
Kemitraan kami dengan Indonesia juga mencakup pendidikan tinggi. Kami mendorong mahasiswa Eropa untuk belajar di universitas-universitas di Indonesia. Demikian juga sebaliknya, kami juga mendorong agar mahasiswa-mahasiswa Indonesia dapat belajar di universitas-universitas di Eropa.