
Tapi, euro Eropa melemah 0,13 persen, franc Swiss minus 0,12 persen, dan dolar Kanada minus 0,06 persen.
Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong menilai penguatan nilai tukar rupiah sepenuhnya terjadi berkat sentimen global, yaitu pelemahan dolar AS. Mata uang negeri Paman Sam itu melemah seiring turunnya ekspektasi pelaku pasar terhadap perubahan arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed).
"Sedangkan beberapa data ekonomi AS belum sesuai ekspektasi pasar, meski sudah membaik, sehingga membuat The Fed kemungkinan belum akan memberi tanda-tanda perubahan," ungkap Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Sementara, dari dalam negeri, ia menilai sentimen positif baru belum ada. Sentimen di dalam negeri justru masih negatif, mulai dari lonjakan kasus covid-19 hingga PPKM Darurat.
Yang teranyar, pemerintah justru menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 3,7 persen sampai 4,5 persen pada 2021. Penurunan proyeksi ini disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto kemarin.