
Ia ingin menghirup udara yang layak dan tidak terus dikepung asap seperti ini. Ratri berharap pemerintah melakukan upaya tegas menghentikan asap karhutla yang disebabkan pembakaran hutan secara sengaja.
"Kami bisa mati perlahan kalau dikepung asap seperti ini setiap hari. Kami sangat berharap dengan pemerintah, supaya bisa memberikan udara yang layak lagi bagi kami. Karena kami yang di sini juga punya hak untuk hidup," ucap Ratri.
Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, pada Jumat pagi pukul 06.00 WIB terpantau ada 1.319 titik panas (hotspot) yang jadi indikasi awal karhutla di Pulau Sumatra. Titik panas paling banyak di Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), yakni 537 titik, kemudian Jambi 440 titik, dan Riau sendiri ada 239 titik panas.
Khusus di Riau, titik panas paling banyak di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) ada 127 titik, Indragiri Hulu (Inhu) 31 titik, Pelalawan 30 titik, Rokan Hilir (Rohil) 18 titik, Kuansing dan Kampar masing-masing 11 titik, Bengkalis 7 titik, Siak 3 titik dan Kota Dumai ada satu titik.
Dari jumlah tersebut ada 177 yang dipastikan titik api. Lokasi paling banyak di Inhil dengan 98 titik. Di Inhu ada 20 titik, Pelalawan 21 titik, Rohil 13 titik, Kuansing 9 titik, Kampar 8 titik, Bengkalis 6 titik, dan Siak dua titik.*